11/18/2012

Syarat Nyanyian Liturgi Gereja


Nyanyian Liturgi atau Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk mendukung perjumpaan umat dengan Tuhan. Dulu ada pembedaan nyanyian dalam Liturgi dengan istilah Ordinarium (Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan, Kudus, Anak Domba Allah) dan Proprium (Lagu Pembuka, Antar Bacaan, Lagu Persiapan Persembahan, Lagu Komuni, Penutup). Oleh IML (Instruksi tentang Musik Litrugi) dibedakan bobot nyanyian dalam Liturgi sebagai berikut :
a.       Tingkat I         : Nyanyian Aklamasi
b.      Tingkat II        : Nyanyian Mazmur Tanggapan
c.       Tingkat III      : Nyanyian Pembuka
d.      Tingkat IV      : Nyanyian Tambahan
Syarat Nyanyian Liturgi yang baik :
a.       Sesuai dengan peranan nyanyian tersebut di dalam Liturgi; apakah lagu pembuka, persiapan persembahan atau penutupdan lain sebagainya.
b.      Sesuai dengan masa dan tema liturgi (Adven, Natal, Prapaska, Paska, Pentakosta dll.)
c.       Mengungkapkan iman akan misteri Kristus; Kristus yang hadir harus selain dalam wujud roti dan anggur juga terungkap dalam nyanyian.
d.      Nyanyian melayani seluruh umat; seluruh umat dapat ikut bernyanyi sehingga tercapai tujuan dari nyanyian liturgi, sehingga pemilihan lagu tidak dapat berdasarkan selera pribadi ataupun kelompok.

11/17/2012

tugas PAK 1


Tugas PAK 1 oleh Agustinus Dwi Riyanto 121124046

1.   Sosok yang ditampilkan oleh para alumni:
·      Kesetiaan menjalani tugas perutusan mereka
·      Berani bertanggungjawab atas pilihan dan keputusan mereka
·      Bersedia mendengarkan suara hati
2.   Sosok alumni memberikan inspirasi kepada kita semua karena mereka menunjukkan jiwa katekis yang sungguh-sungguh magis dalam menjalani kehidupan mereka sebagai seorang katekis di zaman sekarang ini. Sikap magis tersebut terlihat jelas dari kesetiaan mereka ketika menjalani tugas mereka sebagai seorang katekis yang mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang.
3.   Sosok yang paling ideal :
a.    Yulita Noria
b.   Merry Un Lais
Kedua orang tersebut menunjukkan sikap setia akan pilihan mereka. Mereka telah memilih untuk sebagai seorang katekis dan mereka setia serta mencintai pilihan mereka itu dengan menjalankan tugas-tugas mereka dengan profesional.

11/14/2012

jangan bertindak bodoh


Dia Tetap Menjadi Anakku


            Matahari mulai lelah untuk bersinar, sehingga dia membenamkan dirinya di ujung barat. Aku masih dapat melihat sisa-sisa sinarnya itu di balik awan yang telah memerah ditemani oleh tetasan air dari atas genting sisa hujan tadi siang. Aku baru saja selesai memasak untuk makan malam. Sambil menunggu suamiku pulang kerja dan anak sulungku pulang dari kuliah. Santai rasanya, pekerjaan sebagai seorang ibu di hari itu telah usai. Aku menikmati petang yang sepi itu  dengan duduk di ruang depan sambil menonton televisi. Aku melihat sekitar. Sepi. Sunyi. Hening. Tepat disebelah ruang dimana aku berada adalah kamar anak bungsuku yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di seminari menengah. Sudah lama aku tidak bertemu dengan dia, kebetulan besok adalah hari Minggu dan aku dapat berkunjung ke seminari untuk melepas rasa rinduku kepada anakku. Sejenak, untuk melepas rasa rinduku, aku ke kamar anakku yang masih tertata rapi sejak liburan yang lalu. Di meja belajarnya, aku melihat fotonya ketika bersama-sama dengan teman-temannya di seminari. Mereka terlihat bahagia. Tiba-tiba aku meneteskan air mata, aku teringat akan anak sulungku.
***
            Malam itu setelah pulang dari gereja, anakku berlari mendekatiku dan terlihat bahagia.
“Bu, aku diterima di seminari!” katanya dengan bangga.
Aku pun hanya tersenyum.
 “Nah, apa kamu yakin mau masuk seminari, kan kakakmu juga masuk seminari?”
Aku sedikit merasa tidak rela jika anak bungusku masuk ke seminari. Padahal kakaknya saat itu masih seorang frater yang sedang belajar filsafat di luar kota. Anakku hanya diam tak menjawab apapun. Dia langsung pergi meninggalkanku menuju ke kamarnya.
            Beberapa hari setelah percakapan itu, anakku sibuk mencari apalah, sepertinya untuk keperluan masuk ke seminari. Sepertinya dia yakin untuk masuk ke seminari, dia sudah menyiapkan segalanya. Kelihatannya dia sudah siap, hingga suatu ketika dia datang dengan raut muka yang agak takut. Tepat dua minggu sebelum keberangkatannya ke seminari, dia datang kepadaku.
“Bu, aku tidak jadi masuk seminari!” katanya dengan merasa bersalah.
Aku diam sejenak dan ingin mencari tahu apa sebabnya dia berubah pikiran dalam waktu yang singkat.
“Lha kenapa? Bukannya semuanya sudah disiapkan?”
“Iya, tapi aku merasa tidak yakin kalau imam itu jalan hidupku. Aku merasa bahwa itu yang bukan aku rindukan selama ini.”
“Lalu mau bagaimana? Dicoba dulu saja, siapa tahu Tuhan memang berkehendak. Lagi pula kamu bisa lihat kakakmu, dia merasa bahagia dengan menjadi frater.”
“Ya udah deh, aku coba dulu! Bu, aku pamit dulu ya.”
Tiba-tiba dia langsung keluar sebelum aku mengatakan apapun, tapi aku tahu dia pasti ke Gua Maria Jatiningsih. Biasanya kalau dia sedang ada masalah, dia pergi ke sana untuk mencari ketenangan dan keheningan.
            Kini tiba saatnya, hari-hari yang ditunggu, anakku masuk ke seminari. Menahan air mata, mungkin yang dia lakukan. Aku tahu sangat sulit baginya untuk melepas apa yang dia miliki selama ini. Bahkan dia rela meninggalakan kekasihnya hanya untuk dapat masuk ke seminari. Dia terlihat sangat mantap. Tetapi aku ingat akan suatu hal, bahwa dia pernah mengatakan kalau dia tidak  yakin untuk menjadi imam, berarti dia memang sedikit terpaksa untuk masuk ke seminari. Semoga saja rasa ragu-ragu itu tidak terlintas kembali.
            Empat puluh hari pertama, dia tidak boleh dihubungi, ditelpon bahkan berkirim surat tidak diperbolehkan. Entah apa yang dirasakan, aku hanya dapat berdoa untuknya supaya ia sungguh dapat berproses. Aku sekarang sering sendiri saat di rumah, suamiku pergi bekerja sedangkan kedua anakku ada di seminari. Aku sering melamun terutama tentang anak bungsuku, apa dia sunggu-sungguh ingin menjadi imam atau tidak. Dalam kesendirian itu aku hanya dapat berdoa. “Jika memang itu kehendakMu, maka terjadilah”
            Satu tahun telah berlalu, dia sekarang berada di tingkat kedua di seminari menengah. Hari minggu kedua menjadi hari yang selalu aku tunggu karena aku dapat mengunjungi anakku. Sampai saat itu aku masih menyembunyikan suatu rahasia bahwa kakaknya telah keluar dari biara. Aku tahu sunggu kalau kakaknya menjadi motivasi baginya untuk masuk ke seminari, tapi sekarang kakaknya telah keluar dan siapa yang akan menjadi motivasi baginya. Aku takut kalau anak bungsuku mempunyai beban status karena kakanya keluar.
            Hari yang kutunggu telah tiba, aku akan bilang kepadanya kalau kakaknya telah keluar.
“Bu, Mas Markus keluar ya?” katanya mendahuluiku.
Aku bingung dia tahu itu darimana.
“Iya, dia keluar.” Kataku mnembuang rasa penasaran.
Semoga saja dia tetap semangat, aku takut kalau dia nantinya merasa terbebani.
“Ya udah bu! Berarti sekarang tinggal aku, jadi aku harus berjuang sungguh-sungguh.”
Rasa takut dan keraguan kembali menghantuiku, apa dia sunggu yakin untuk menjadi imam. Mungkin karena dia tidak ingin membuat malu keluarga, maka ia berkata demikian.
            Sekarang anakku sedang liburan. Dia sekarang jaranga berada di rumah entah pergi kemana aku tidak tahu. Aku memberikan kebebasan kepadanya dengan maksud mengurangi bebannya.  Suatu hari kami berbincang-bincang.
“Bu, sekarang aku pacaran.” katanya membuka perbincangan sore itu.
“Ya tidak masalah, asalkan kamu bisa menempatkan diri, ingat kamu itu masih seminaris! Jika kamu keluar karena pacaran, ibu tidak setuju.”
“Tidak!”
“Baiklah kalau begitu.”
Mulai saat itu  aku merasa takut kalau dia keluar. Tapi aku sadar, aku tidak dapat memaksanya untuk lanjut sebab itu adalah pilihannya.
Kringg!!! Suara telepon mengagetkanku saat lagi-lagi aku melamun.
“Halo, bu?”
“Iya, ada apa nak?”
“Bu, aku…aku mau keluar.”
“Kenapa? Apa kamu lupa akan janji kamu dulu?”
“Ingat. Ini bukan karena pacarku itu bu. Aku merasa tidak yakin dengan pilihan menjadi imam. Aku ingin menjadi guru. Guru Matematika.”
Berkali-kali anakku bilang seperti itu. Tapi aku masih sering sedikit memaksanya untuk melanjutkan dahulu. Kakaknya juga sering menghubunginya dan bilang agar dia lanjut terlebih dahulu, akan tetapi dia tetap saja pada keputusannya untuk mundur.
            Beberapa bulan telah berlalu dan dia masih sering bilang kalau dia ingin mundur. Bahkan dia sampai memutuskan pacarnya untuk menunjukkan bahwa dirinya keluar buka karena lawan jenis.
“Bu, aku tetap ingin keluar. Sekali lagi bukan karena pacarku. Kamu sudah putus!”
“Memang sudah bulat keputusanmu itu? Sudah dipertimbangkan sungguh?”
“Ya, aku merasa imamat bukan jalanku.”
Saat itu aku merasa sangat kecewa dan masih saja terus memaksanya, hingga suatu saat aku ingat akan perkataannya bahwa sejak awal dia tidak yakin masuk seminari. Tapi dia memaksa.  Ya, aku sudah janji untuk tidak membebaninya.
***
            Aku tesadar dari lamunan itu ketika suamiku pulang. Tak lama kemudian anak sulungku juga pulan. Kami bertiga makan bersama tanpa anak bungsuku.
“Pak, Markus besuk minggu kunjungan jadi kita sama-sama mengunjungi Dwi.”
“Ibu mau bawakan apa untuknya?” tanya suamiku
“Aku tidak tahu! Tapi aku akan bilang, dia bebas untuk memilih jalan hidupnya, imamat atau awam. Sekarang aku sadar, aku tidak akan membebaninya lagi.”
Semua hanya terdiam dan hanya suara televisi dan binatang malam yang berbunyi. Sekarang aku tidak akan membebani anakku lagi. Dulu aku mempunyai impian bahwa salah satu dari anakku ada yang menjadi imam, dan aku akan sangat bahagia dengan itu. Tapi bagaimanapun itu semua tergantung pada kehendak Bapa, aku menyerahkan segalanya kepadaNya. Jika anakku keluar dia telah membuktikan bahwa bukan karena lawan jenis, tapi memang dari hatinya yang terdalam mengatakan bahwa imamat bukan jalannya.  Dan apapun yang dia pilih aku akan mendukungnya. Dia tetap menjadi anakku….
***

Mari Menulis Opini

Banyak orang mengira bahwa menulis opini itu merupakan hal yang sulit dan membutuhkan kepintaran yang lebih. Anggapan seperti itu sangat salah. Opini adalah artikel yang mengungkapan pendapat dari penulisnya. Dan setiap orang tentu mempunyai pendapat. Lalu mengapa masih merasa kesulitan untuk menulis artikel opini?
Simak pembahasan berikut untuk untuk dapat memahami dengan jelas...
dokumen :Menulis Opini yang Mudah
presentasi:Mudahnya Menulis Opini
Selamat menulis opini :)

11/11/2012

Bagaimana menulis opini yang baik dan mudah?
Perhatikan slide berikut ini :Menulis Opini

Masuk Biara; Siapa Takut ?


Partisipasi Umat dalam Liturgi



            Partisipasi di dalam liturgi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu : interior dan eksterior. Partisipasi aktif interior adalah pikiran dan hati umat yang terjaga dalam melaksanakan liturgi, sedangkan partisipasi aktif eksterior adalah hal-hal diluar jiwa yaitu perkataan dan sikap tubuh dalam melaksanakan liturgi.
            Partisipasi umat dalam liturgi tidak hanya saat Perayaan Ekaristi dilaksanakan, namun sebelum dilaksanakan Perayaan Ekaristi umat hendaknya juga berpartisipasi. Wujud partisipasi umat sebelum pelaksanaan Ekaristi ialah dengan mempersiapkan diri sebelum Ekaristi misalnya dengan membaca bacaan kitab suci, pemeriksaan batin, berpakaian sopan, mematikan handphone dan sebaginya. Dalam Perayaan Ekaristi hendaknya kita juga mengambil bagian peran di dalam peran Kristus sebagai Imam Agung dan Kurban dalam perayaan tersebut. Caranya dapat dengan turut mempersembahkan diri kita berserta ucapan syukur, suka-duka, pergumulan dan pengharapan kita untuk dipersatukan dengan kurban Kristus.
            Secara teknis dalam Perayaan Ekaristi, sikap partisipasi umat akan terlihat dengan menunjukkan sikap badan dan keterlibatan dalam nyanyian-nyanyian atau dialog dalam Ekaristi. Sebagai contoh : saat perarakan masuk umat diharapkan untuk berdiri dengan tujuan untuk menyambut imam dan petugas liturgi lainnya, selain itu umat juga diharapkan untuk ikut serta dalam menyanyikan lagu pembuka. Kerap kali yang menjadi permasalahan dalam Perayaan Ekaristi ialah dialog antara imam yang memimpin Ekaristi dengan umat. Dalam dialog seperti “anamnese”, dialog sebelum pembacaan Injil “Tuhan sertamu…” biasanya hanya imam saja yang aktif, sedangkan umat enggan untuk menjawabnya, sehingga menciptakan suasana yang kurang mendukung dalam merayakan Ekaristi. Oleh karena itu, diharapkan umat dapat berperan dan berpartisipasi di dalam Liturgi dengan menjawab dan memberikan sikap badan yang dapat mendukung berjalannya Perayaan Ekaristi.
lihat lebih jelasnya :
http://katolisitas.org/9310/bagaimana-sikap-kita-di-dalam-liturgi

11/09/2012

Memilih Mengakui



  P
ada tahun 1811, Brata seorang anak dari orang kepercayaan gubernemen Belanda, mengenal seorang gadis bernama Danti dan kakaknya yaitu Danar. Pertemuan itu sungguh tidak dikehendaki dan tidak diinginkan oleh Brata, sebab kedua kakak beradik tersebut  terus saja mengejeknya. Akan tetapi, mereka tetap berteman baik sampai pada akhirnya mereka bertambah besar. Suatu ketika, Brata mempunyai teman baru, dia adalah Karsa seorang anak jagal daging di pasar Salatiga. Mereka berteman dan berlatih bela diri bersama di pinggir kali. Danti adalah salah seorang langganan tetap Karsa dan mereka lama-kelamaan saling mengenal dan akrab. Brata yang tahu bahwa Danti sering pergi ke pasar, dia kemudian sering ke tempat Karsa berjualan untuk bertemu dengan Danti. Tak diduga, Brata mempunyai rasa cinta kepada Danti, teman lamanya itu.
            Suatu hari, Brata memberanikan dirinya untuk mengungkapkan rasa cintanya, akan tetapi dia ditolak sebab Danti telah jatuh cinta kepada Resa kakak dari Karsa. Sejak saat itu, Brata malu untuk menemui Danti dan dia juga menjadi benci dengan Resa. Brata lebih sering bertemu dengan Danar untuk membujuk dia agar jangan menyetujui hubungan antara Danti dengan Resa. Danar terpengaruh dan ingin menjatuhkan Resa. Danar dan Brata menyebarkan isu bahwa keluarga Abilawa menjual daging haram dan mereka penganut agama sesat sebab hanya sholat tiga kali dalam sehari. Keluarga Abilawa harus datang ke pengadilan untuk mengurus hal tersebut, banyak orang menjadi benci dengan keluarga tersebut. Pengadilan tersebut diakhiri dengan terbunuhnya Ki Abilawa oleh seorang bayaran Danar.
            Rasa cinta yang dimiliki oleh Danti dan Resa tidak dapat dipisahkan. Keduanya telah sepakat untuk menikah, akan tetapi lamaran Resa ditolak oleh wakil keluarga Danti dengan alasan Danti telah dijodohkan dengan Den Mas Lesmana seorang kaya di Salatiga. Pernikahan antara Danti dan Lesmana berlangsung meriah. Akan tetapi, Danti terpaksa mau menikah. Danti memiliki cara agar tetap ada hubungan dengan Resa, Resa disuruh menikah dengan Karni adiknya. Akhirnya mereka menikah.
            Resa dan Karni menjadi pasukan Dipanegaran untuk memberontak penjajahan. Brata yang meras menyesal dengan apa yang dilakukan dulu, dia kemudian bergabung dengan Resa dan Karni. Brata mengakui bahwa dirinya terlibat di dalam pembunuhan Ki dan Nyi Abilawa, tapi dia menyesal dan akan membayarnya.

Refleksi
Hidup manusia sangat dekat dengan ketidak sempurnaan. Karenanya sering manusia melakukan kesalahan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Mengakui kesalahan atau mengungkapkan hal yang salah merupakan suatu keberanian yang luar biasa, “wuah!”
Belajar dari Brata, dia tahu bahwa dirinya salah dan rasa kesalahan itu terus menghantuinya karena dia tidak mau mengakuinya. Orang katolik percaya bahwa Allah yang Maharaim, Dia berkenan untuk mengampuni. Hal ini menjadi suatu jaminan agar orang mau mengakui kesalahannya dan mau menjalankan penitensi sebagi wujud ber-transformasi menjadi yang lebih baik.
Jika Allah telah mengasihi kita sedemikian besar, mengapa kita tidak mau mengakui kesalahan kita? Dan yang pening : maukah ber-transformasi menjadi yang lebih baik?