11/08/2012

Choose Your Love Your Choice




                                                                                                                                              
Pengantar
Let Go Let God! Kehendak Tuhan terjadilah. Panggilan hidup merupakan sebuah misteri yang tidak dapat dijawab oleh manusia. Manusia dapat berusaha mencari jawaban dari misteri tersebut, namun tetap saja jawaban tersebut tidak dapat ditemukan. Semua itu merupakan prakarsa Allah. Manusia hanya dapat menjalani hidup ini dengan kesetiaan akan panggilan hidupnya.
Dalam menjalani panggilan hidupnya, manusia tidak langsung diberitahukan tentang panggilan hidupnya. Tuhan memberikan banyak pilihan kepada manusia untuk menemukan panggilan hidupnya. Dalam pilihan tersebut, manusia diajak untuk mendengarkan suara hati nurani yang merupakan kehendak Tuhan. Memilih tidak semudah membalikkan telapak tangan saja. Artikel berjudul “Setiapkali Harus Memilih” karangan Yulita Noria dan “Memilih dengan Hati” karangan Merry Un Lias akan menghantarkan kita semua kepada bagaimana kita hendaknya memilih di saat kita menghadapi pilihan-pilihan di dalam hidup. Kedua artikel tersebut mengajak pembaca untuk dapat memahami apa yang ada di balik pilihan-pilihan itu dan diharapkan dapat mencintai pilihan yang telah diambil dan menerima konskuensi dari pilihan tersebut.

Mengapa Artikel ini (?)
            Artikel karangan Yulita Noria dan Merry Un Lais dalam buku “Secercah Lentera Kehidupan : Kisah-kisah Inspiratif Para Pewarta Iman” memiliki kesamaan yaitu membahas dan mensharingkan tentang pilihan hidup terutama pilihan mereka untuk menjadi seorang katekis. Kedua judul artikel ini dipilih oleh penulis karena tema yang menarik yaitu tentang pilihan hidup dan panggilan hidup. Panggilan dan pilihan dalam hidup menjadi hal yang selalu dipertanyakan oleh manusia yang menjadi pelakunya. Terkadang manusia dengan mudahnya untuk memilih dan mengambil sebuah keputusan, namun setelah mengambil keputusan tersebut, apakah mau untuk mencintai pilihan tersebut dan menerima konsekuensi dari pilihan itu? Artikel ini mengajak kita semua untuk setia dan mencintai pilihan kita. Kita yang telah memilih, maka beranilah untuk mencintai pilihan tersebut.

Ringkasan Artikel
            Perjalanan dari dua orang katekis yang berbeda, tetapi memiliki pergulatan yang sama yaitu tentang “pilihan”. “Setiap kali harus Memilih[1]” dan “Memilih dengan Hati[2].”
Yulita Noria – alumni STKAT angkatan 1985 – mengalami pergulatan dalam hal memilih. Kisahnya sebagai seorang katekis dimulai sejak tahun 1981. Dia berkenalan dengan Pastor Bertus Visschedijh MHM dan Cece Afra Siowardjaja di PanKat Keuskupan Agung Pontianak saat di Wisma Emaus Nyarumkop. Setelah usai ujian negara, akhirnya pada tanggal 3 Mei 1982, dia memilih untuk pindah rumah ke Wisma Emaus untuk belajar melayani sebagai seorang katekis.
Suatu ketika pada bulan Agustus, dia ambil bagian dalam retret kampung di Capkala bersama dengan tim Emaus. Dia memimpin suatu pertemuan dan berusaha menerangkan bahwa Allah itu adalah Bapa yang baik. Sejak saat itu, dia merasa berani untuk berbicara di depan  banyak umat sebagai katekis. Di tahun-tahun selanjutnya, dia aktif di dalam pembinaan dan pelayanan pastoral bersama tim Emaus, terlibat dalam kegiatan pembinaan untuk masyarakat perbatasan hingga suatu saat  dia mendapatkan tawaran untuk melanjutkan studi. Bulan Januari 1985, dia memperoleh tawaran dari Pastor Bertus untuk melanjutkan studi di STKAT PRADNYAWIDYA YOGYAKARTA (sekarang menjadi Prodi IPPAK-USD). Di sinilah dia mulai mengalami pergulatan dengan pilihannya. Di satu sisi tawaran ini merupakan kesempatan baginya, namun di sisi lain dia menyadari akan kemampuannya dalam bidang akademik yang kurang, dia merasa takut tidak dapat bersaing dengan teman-temannya. Akhirnya dia memilih untuk menerima tawaran tersebut dan selalu mengingat akan pesan dari orangtuanyaa agar jangan merasa ragu dengan dirinya sendiri.
Perjalanan di STKAT PRADNYAWIDYA dimulai. Kebersamaan dengan teman-teman membuatnya semakin yakin bahwa Allah itu sungguh setia. Berbagai pengalaman seperti ketika dia mengalami kecelakaan dan harus berbaring di rumah sakit membuat dirinya semakin yakin betapa baiknya Tuhan sebab ada banyak orang yang peduli kepadanya.
Setelah tamat studinya dari STKAT PRADNYAWIDYA, dia kembali ke rumahnya yaitu Wisma Emaus. Pengalaman demi pengalaman dia lalui dengan setia menjadi katekis hingga suatu saat dia juga harus memilih, apakah anak atau pelayanan. Saat anaknya yang masih berumur empat bulan sedang demam, dia harus pergi ke luar kota untuk menjalankan tugasnya sebagai katekis. Tak berhenti sampai di sini, dia terus mengalami pergulatan  dalam pilihan. Pada tahun 2000, dia diikutsertakan untuk merayakan Jubelium Agung di Roma oleh Pator Terry Ponomban. Awalnya dia menolak dengan alasan putri keduanya baru berumur dua bulan tiga minggu. Pilihan ini sulit baginya, akan tetapi berkat dukungan dan ke-care-an keluarga dan sahabatnya, dia mengikuti Jubelium Agung dan mendapatkan berkat langsung dari Paus Yohanes Paulus II ketika menjadi petugas pembawa persembahan. Dia mengatakan bahwa tidak mudah untuk memahamiu panggilan hidupnya, namun sekarang dia telah menemukan jawabannya bahwa dia dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi katekis yang mewartakan Kabar Gembira.
Lain kisahnya dengan Merry Un Lais – alumni IPPAK angkatan 1999 – yang menjadi katekis di tanah Papua. Kisah panggilannya menjadi katekis di Papua tepatnya di Timika bermula ketika adanya tawaran untuk bekerja menjadi petugas pastoral dari Vikjen Keuskupan Timika. Cerita-cerita tentang kurangnya tenaga pastoral, medan karya yang berat dan transportas yang sulit di Papua menjadi tantangan dan semangat baginya untuk berkarya di tanah Papua. Selain tawaran di Papua, dia juga mendapatkan tawaran bekerja du Keuskupan Tanjung Selor, di perusahaan Pupuk Kaltim dan di Jakarta. Sebuah perkataan kecil dari suami temannya yang membuka mata dan hatinya, “Merry, mencari pekerjaan berasal dari hati. Walau pun pekerjaan itu di kota besar, gajinya besar, tapi hatimu tidak senang, maka semua itu tidak punya arti apa-apa untukmu. Sebaliknya, walau pun pekerjaan itu di kota terpencil dengan gaji yang kecil, tapi kamu merasa sangat gembira, maka tempat itu akan sangat berarti buat kamu.” Saat itu lah, dia mulai memilih, apakah bekerja di kota besar seperti Jakarta dengan gaji yang tinggi atau kah bekerja di Timika dengan gaji yang rendah. Dan akhirnya pilihannya jatuh pada pilihan untuk menjadi katekis di Timika. Setibanya di sana, dia mendapatkan tugas yang berlimpah yang mungkin tidak setimpal dengan gaji yang diperolehnya. Akan tetapi, dia tetap setia dan semangat menjalani pilihanya tersebut untuk menjadi katekis dan tenaga pastoral di Timika karena hatinya berada di sana.
Tanggapan Penulis tentang Artikel
            Memilih bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan oleh kebanyakan orang. Jika pilihan-pilihan yang ada adalah pilihan antara yang baik dan yang buruk, maka akan lebih mudah  untuk memilih. Secara langsung, manusia akan memilih pilihan yang baik. Akan tetapi, bagaimana jika manusia dihadapkan dengan pilihan yang sama baiknya? Kita perlu berdiskresi dan sungguh-sungguh mempertimbangkan pilihan tersebut dengan hati yang matang, sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
            Artikel karangan Yulita Noria dan Merry Un Lain secara langsung dan tegas mengajak pembaca untuk berani memilih, mencintai pilihan dan menerima konsekuensi dari pilihan yang telah diambil. Melalui sharing pengalaman dalam hal pilihan hidup, Yulia Noria dan Merry Un Lais menunjukkan sikap yang dewasa, dimana mereka berani untuk memilih dan mengambil suatu keputusan dan mereka mencintai apa yang telah mereka pilih beserta menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Selain itu, mereka juga menunjukkan bagaimana memilih. Memilih di antara dua pilihan yang sama-sama baik. Membuka mata, telinga dan hati untuk dapat menemukan kehendak Tuhan atas hidup.
            Yulita Noria sebagai seorang yang terpanggil menjadi katekis mengalami berkali-kali pengalaman untuk memilih antara yang baik dan yang lebih baik. Pilihan antara anaknya sendiri atau tugas pelayanan sebagai seorang katekis membuat dirinya menjadi pribadi yang matang dalam menjalani hidupnya. Jika dia tidak membuka mata, telinga dan hatinya, maka dia akan memilih yang hanya membuat dirinya nyaman. Tidak hanya sekali saja dia harus memilih, namun berkali-kali di setiap perjalanan hidupnya dia harus memilih dan di dalam setiap pergulatannya dalam memilih dia selalu mengikuti suara hati nuraninya bukan emosi sesaat yang dialaminya. Begitu juga dengan Merry Un Lais yang dipanggil menjadi seorang katekis di tanah Papua yang tentu memiliki tantangan dan rintangan dalam berkarya baik dari medan, transportasi dan mungkin penduduknya. Dia mengalami sebuah pergulatan dalam menentukan langkah untuk bekerja dan melayani, apakah akan bekerja di Jakarta dengan gaji yang besar namun dirinya tidak merasa gembira atau bekerja di Papua dengan gaji yang kecil dan dirinya merasa senang. Dalam menentukan pilihan, dia tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri, akan tetapi dia juga memperhatikan orang lain di sekitarnya. Perkataan dari suami temannya justru membuatnya sadar dengan pilihannya bahwa memilih itu menggunakan hati. Artinya untuk mengambil sebuah keputusan harus berdasarkan suara hati nurani, bukan hanya berdasarkan suka atau tidak suka dengan pilihan itu.
            Secara tegas, kedua artikel tersebut mengajak pembaca untuk berani memilih sebuah pilihan dengan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh berdasarkan suara hati nurani dan berani menerima segala konsekuensi dan resiko dari pilihan tersebut.
Kesimpulan
            Hidup ini selalu dihadapkan dengan pilihan-pilhan yang harus diambil. Hanya satu dari dua pilihan yang ada harus diambil. Antara pilihan yang baik dan buruk, akan mudah untuk mengambil pilihan yang baik. Namun, akan berbeda jika yang dihadapkan adalah pilihan yang baik dan baik atau baik dan lebih baik. Kita perlu membuka mata, telinga dan hati kita untuk dapat mengambil keputusan yang bijaksana dengan segala pertimbangan yang ada, sehingga nantinya tidak menyesal dengan apa yang menjadi pilihan hidup.
            Dalam Latihan Rohani, Santo Ignatius Loyola menerangkan bahwa memilih tidak dapat dilakukan ketika hati sedang merasa senang sekali atau sedih sekali sebab hal tersebut akan sangat berpengaruh akan pilihan hidup. Yang mendasari sebuah pilihan bukanlah suasana hati dimana suka atau tidak suka, namun pilihan itu tergantung pada suara hati yang merupakan kehendak Allah. Memilih jangan terburu-buru, tetapi jangan pula terlalu lama dalam wilayah abu-abu. Artikel di atas mengajak pembaca untuk berani memilih dan mencintai pilihannya sehingga siap untuk menerima segala resiko yang diperoleh karena pilihan tersebut. Choose your love and love your choice!


[1] Artikel karangan Yulita Noria, Secercah Lentera Kehidupan,hal. 103-110
[2] Artikel karangan Merry Un Lais,Secercah Lentera Kehidupan, hal. 73-85

Tidak ada komentar:

Posting Komentar