P
|
ada tahun 1811, Brata seorang anak dari orang
kepercayaan gubernemen Belanda, mengenal seorang gadis bernama Danti dan
kakaknya yaitu Danar. Pertemuan itu sungguh tidak dikehendaki dan tidak
diinginkan oleh Brata, sebab kedua kakak beradik tersebut terus saja mengejeknya. Akan tetapi, mereka
tetap berteman baik sampai pada akhirnya mereka bertambah besar. Suatu ketika,
Brata mempunyai teman baru, dia adalah Karsa seorang anak jagal daging di pasar
Salatiga. Mereka berteman dan berlatih bela diri bersama di pinggir kali. Danti
adalah salah seorang langganan tetap Karsa dan mereka lama-kelamaan saling
mengenal dan akrab. Brata yang tahu bahwa Danti sering pergi ke pasar, dia
kemudian sering ke tempat Karsa berjualan untuk bertemu dengan Danti. Tak
diduga, Brata mempunyai rasa cinta kepada Danti, teman lamanya itu.
Suatu
hari, Brata memberanikan dirinya untuk mengungkapkan rasa cintanya, akan tetapi
dia ditolak sebab Danti telah jatuh cinta kepada Resa kakak dari Karsa. Sejak
saat itu, Brata malu untuk menemui Danti dan dia juga menjadi benci dengan
Resa. Brata lebih sering bertemu dengan Danar untuk membujuk dia agar jangan
menyetujui hubungan antara Danti dengan Resa. Danar terpengaruh dan ingin
menjatuhkan Resa. Danar dan Brata menyebarkan isu bahwa keluarga Abilawa
menjual daging haram dan mereka penganut agama sesat sebab hanya sholat tiga
kali dalam sehari. Keluarga Abilawa harus datang ke pengadilan untuk mengurus
hal tersebut, banyak orang menjadi benci dengan keluarga tersebut. Pengadilan
tersebut diakhiri dengan terbunuhnya Ki Abilawa oleh seorang bayaran Danar.
Rasa
cinta yang dimiliki oleh Danti dan Resa tidak dapat dipisahkan. Keduanya telah
sepakat untuk menikah, akan tetapi lamaran Resa ditolak oleh wakil keluarga
Danti dengan alasan Danti telah dijodohkan dengan Den Mas Lesmana seorang kaya
di Salatiga. Pernikahan antara Danti dan Lesmana berlangsung meriah. Akan
tetapi, Danti terpaksa mau menikah. Danti memiliki cara agar tetap ada hubungan
dengan Resa, Resa disuruh menikah dengan Karni adiknya. Akhirnya mereka
menikah.
Resa
dan Karni menjadi pasukan Dipanegaran untuk memberontak penjajahan. Brata yang
meras menyesal dengan apa yang dilakukan dulu, dia kemudian bergabung dengan
Resa dan Karni. Brata mengakui bahwa dirinya terlibat di dalam pembunuhan Ki
dan Nyi Abilawa, tapi dia menyesal dan akan membayarnya.
Refleksi
Hidup manusia sangat dekat dengan ketidak
sempurnaan. Karenanya sering manusia melakukan kesalahan baik secara sengaja
maupun tidak sengaja. Mengakui kesalahan atau mengungkapkan hal yang salah
merupakan suatu keberanian yang luar biasa, “wuah!”
Belajar dari Brata, dia tahu bahwa dirinya salah dan
rasa kesalahan itu terus menghantuinya karena dia tidak mau mengakuinya. Orang
katolik percaya bahwa Allah yang Maharaim, Dia berkenan untuk mengampuni. Hal
ini menjadi suatu jaminan agar orang mau mengakui kesalahannya dan mau
menjalankan penitensi sebagi wujud ber-transformasi menjadi yang lebih baik.
Jika Allah telah mengasihi kita sedemikian besar,
mengapa kita tidak mau mengakui kesalahan kita? Dan yang pening : maukah
ber-transformasi menjadi yang lebih baik?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar