11/09/2012

Memilih Mengakui



  P
ada tahun 1811, Brata seorang anak dari orang kepercayaan gubernemen Belanda, mengenal seorang gadis bernama Danti dan kakaknya yaitu Danar. Pertemuan itu sungguh tidak dikehendaki dan tidak diinginkan oleh Brata, sebab kedua kakak beradik tersebut  terus saja mengejeknya. Akan tetapi, mereka tetap berteman baik sampai pada akhirnya mereka bertambah besar. Suatu ketika, Brata mempunyai teman baru, dia adalah Karsa seorang anak jagal daging di pasar Salatiga. Mereka berteman dan berlatih bela diri bersama di pinggir kali. Danti adalah salah seorang langganan tetap Karsa dan mereka lama-kelamaan saling mengenal dan akrab. Brata yang tahu bahwa Danti sering pergi ke pasar, dia kemudian sering ke tempat Karsa berjualan untuk bertemu dengan Danti. Tak diduga, Brata mempunyai rasa cinta kepada Danti, teman lamanya itu.
            Suatu hari, Brata memberanikan dirinya untuk mengungkapkan rasa cintanya, akan tetapi dia ditolak sebab Danti telah jatuh cinta kepada Resa kakak dari Karsa. Sejak saat itu, Brata malu untuk menemui Danti dan dia juga menjadi benci dengan Resa. Brata lebih sering bertemu dengan Danar untuk membujuk dia agar jangan menyetujui hubungan antara Danti dengan Resa. Danar terpengaruh dan ingin menjatuhkan Resa. Danar dan Brata menyebarkan isu bahwa keluarga Abilawa menjual daging haram dan mereka penganut agama sesat sebab hanya sholat tiga kali dalam sehari. Keluarga Abilawa harus datang ke pengadilan untuk mengurus hal tersebut, banyak orang menjadi benci dengan keluarga tersebut. Pengadilan tersebut diakhiri dengan terbunuhnya Ki Abilawa oleh seorang bayaran Danar.
            Rasa cinta yang dimiliki oleh Danti dan Resa tidak dapat dipisahkan. Keduanya telah sepakat untuk menikah, akan tetapi lamaran Resa ditolak oleh wakil keluarga Danti dengan alasan Danti telah dijodohkan dengan Den Mas Lesmana seorang kaya di Salatiga. Pernikahan antara Danti dan Lesmana berlangsung meriah. Akan tetapi, Danti terpaksa mau menikah. Danti memiliki cara agar tetap ada hubungan dengan Resa, Resa disuruh menikah dengan Karni adiknya. Akhirnya mereka menikah.
            Resa dan Karni menjadi pasukan Dipanegaran untuk memberontak penjajahan. Brata yang meras menyesal dengan apa yang dilakukan dulu, dia kemudian bergabung dengan Resa dan Karni. Brata mengakui bahwa dirinya terlibat di dalam pembunuhan Ki dan Nyi Abilawa, tapi dia menyesal dan akan membayarnya.

Refleksi
Hidup manusia sangat dekat dengan ketidak sempurnaan. Karenanya sering manusia melakukan kesalahan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Mengakui kesalahan atau mengungkapkan hal yang salah merupakan suatu keberanian yang luar biasa, “wuah!”
Belajar dari Brata, dia tahu bahwa dirinya salah dan rasa kesalahan itu terus menghantuinya karena dia tidak mau mengakuinya. Orang katolik percaya bahwa Allah yang Maharaim, Dia berkenan untuk mengampuni. Hal ini menjadi suatu jaminan agar orang mau mengakui kesalahannya dan mau menjalankan penitensi sebagi wujud ber-transformasi menjadi yang lebih baik.
Jika Allah telah mengasihi kita sedemikian besar, mengapa kita tidak mau mengakui kesalahan kita? Dan yang pening : maukah ber-transformasi menjadi yang lebih baik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar