11/14/2012

Dia Tetap Menjadi Anakku


            Matahari mulai lelah untuk bersinar, sehingga dia membenamkan dirinya di ujung barat. Aku masih dapat melihat sisa-sisa sinarnya itu di balik awan yang telah memerah ditemani oleh tetasan air dari atas genting sisa hujan tadi siang. Aku baru saja selesai memasak untuk makan malam. Sambil menunggu suamiku pulang kerja dan anak sulungku pulang dari kuliah. Santai rasanya, pekerjaan sebagai seorang ibu di hari itu telah usai. Aku menikmati petang yang sepi itu  dengan duduk di ruang depan sambil menonton televisi. Aku melihat sekitar. Sepi. Sunyi. Hening. Tepat disebelah ruang dimana aku berada adalah kamar anak bungsuku yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di seminari menengah. Sudah lama aku tidak bertemu dengan dia, kebetulan besok adalah hari Minggu dan aku dapat berkunjung ke seminari untuk melepas rasa rinduku kepada anakku. Sejenak, untuk melepas rasa rinduku, aku ke kamar anakku yang masih tertata rapi sejak liburan yang lalu. Di meja belajarnya, aku melihat fotonya ketika bersama-sama dengan teman-temannya di seminari. Mereka terlihat bahagia. Tiba-tiba aku meneteskan air mata, aku teringat akan anak sulungku.
***
            Malam itu setelah pulang dari gereja, anakku berlari mendekatiku dan terlihat bahagia.
“Bu, aku diterima di seminari!” katanya dengan bangga.
Aku pun hanya tersenyum.
 “Nah, apa kamu yakin mau masuk seminari, kan kakakmu juga masuk seminari?”
Aku sedikit merasa tidak rela jika anak bungusku masuk ke seminari. Padahal kakaknya saat itu masih seorang frater yang sedang belajar filsafat di luar kota. Anakku hanya diam tak menjawab apapun. Dia langsung pergi meninggalkanku menuju ke kamarnya.
            Beberapa hari setelah percakapan itu, anakku sibuk mencari apalah, sepertinya untuk keperluan masuk ke seminari. Sepertinya dia yakin untuk masuk ke seminari, dia sudah menyiapkan segalanya. Kelihatannya dia sudah siap, hingga suatu ketika dia datang dengan raut muka yang agak takut. Tepat dua minggu sebelum keberangkatannya ke seminari, dia datang kepadaku.
“Bu, aku tidak jadi masuk seminari!” katanya dengan merasa bersalah.
Aku diam sejenak dan ingin mencari tahu apa sebabnya dia berubah pikiran dalam waktu yang singkat.
“Lha kenapa? Bukannya semuanya sudah disiapkan?”
“Iya, tapi aku merasa tidak yakin kalau imam itu jalan hidupku. Aku merasa bahwa itu yang bukan aku rindukan selama ini.”
“Lalu mau bagaimana? Dicoba dulu saja, siapa tahu Tuhan memang berkehendak. Lagi pula kamu bisa lihat kakakmu, dia merasa bahagia dengan menjadi frater.”
“Ya udah deh, aku coba dulu! Bu, aku pamit dulu ya.”
Tiba-tiba dia langsung keluar sebelum aku mengatakan apapun, tapi aku tahu dia pasti ke Gua Maria Jatiningsih. Biasanya kalau dia sedang ada masalah, dia pergi ke sana untuk mencari ketenangan dan keheningan.
            Kini tiba saatnya, hari-hari yang ditunggu, anakku masuk ke seminari. Menahan air mata, mungkin yang dia lakukan. Aku tahu sangat sulit baginya untuk melepas apa yang dia miliki selama ini. Bahkan dia rela meninggalakan kekasihnya hanya untuk dapat masuk ke seminari. Dia terlihat sangat mantap. Tetapi aku ingat akan suatu hal, bahwa dia pernah mengatakan kalau dia tidak  yakin untuk menjadi imam, berarti dia memang sedikit terpaksa untuk masuk ke seminari. Semoga saja rasa ragu-ragu itu tidak terlintas kembali.
            Empat puluh hari pertama, dia tidak boleh dihubungi, ditelpon bahkan berkirim surat tidak diperbolehkan. Entah apa yang dirasakan, aku hanya dapat berdoa untuknya supaya ia sungguh dapat berproses. Aku sekarang sering sendiri saat di rumah, suamiku pergi bekerja sedangkan kedua anakku ada di seminari. Aku sering melamun terutama tentang anak bungsuku, apa dia sunggu-sungguh ingin menjadi imam atau tidak. Dalam kesendirian itu aku hanya dapat berdoa. “Jika memang itu kehendakMu, maka terjadilah”
            Satu tahun telah berlalu, dia sekarang berada di tingkat kedua di seminari menengah. Hari minggu kedua menjadi hari yang selalu aku tunggu karena aku dapat mengunjungi anakku. Sampai saat itu aku masih menyembunyikan suatu rahasia bahwa kakaknya telah keluar dari biara. Aku tahu sunggu kalau kakaknya menjadi motivasi baginya untuk masuk ke seminari, tapi sekarang kakaknya telah keluar dan siapa yang akan menjadi motivasi baginya. Aku takut kalau anak bungsuku mempunyai beban status karena kakanya keluar.
            Hari yang kutunggu telah tiba, aku akan bilang kepadanya kalau kakaknya telah keluar.
“Bu, Mas Markus keluar ya?” katanya mendahuluiku.
Aku bingung dia tahu itu darimana.
“Iya, dia keluar.” Kataku mnembuang rasa penasaran.
Semoga saja dia tetap semangat, aku takut kalau dia nantinya merasa terbebani.
“Ya udah bu! Berarti sekarang tinggal aku, jadi aku harus berjuang sungguh-sungguh.”
Rasa takut dan keraguan kembali menghantuiku, apa dia sunggu yakin untuk menjadi imam. Mungkin karena dia tidak ingin membuat malu keluarga, maka ia berkata demikian.
            Sekarang anakku sedang liburan. Dia sekarang jaranga berada di rumah entah pergi kemana aku tidak tahu. Aku memberikan kebebasan kepadanya dengan maksud mengurangi bebannya.  Suatu hari kami berbincang-bincang.
“Bu, sekarang aku pacaran.” katanya membuka perbincangan sore itu.
“Ya tidak masalah, asalkan kamu bisa menempatkan diri, ingat kamu itu masih seminaris! Jika kamu keluar karena pacaran, ibu tidak setuju.”
“Tidak!”
“Baiklah kalau begitu.”
Mulai saat itu  aku merasa takut kalau dia keluar. Tapi aku sadar, aku tidak dapat memaksanya untuk lanjut sebab itu adalah pilihannya.
Kringg!!! Suara telepon mengagetkanku saat lagi-lagi aku melamun.
“Halo, bu?”
“Iya, ada apa nak?”
“Bu, aku…aku mau keluar.”
“Kenapa? Apa kamu lupa akan janji kamu dulu?”
“Ingat. Ini bukan karena pacarku itu bu. Aku merasa tidak yakin dengan pilihan menjadi imam. Aku ingin menjadi guru. Guru Matematika.”
Berkali-kali anakku bilang seperti itu. Tapi aku masih sering sedikit memaksanya untuk melanjutkan dahulu. Kakaknya juga sering menghubunginya dan bilang agar dia lanjut terlebih dahulu, akan tetapi dia tetap saja pada keputusannya untuk mundur.
            Beberapa bulan telah berlalu dan dia masih sering bilang kalau dia ingin mundur. Bahkan dia sampai memutuskan pacarnya untuk menunjukkan bahwa dirinya keluar buka karena lawan jenis.
“Bu, aku tetap ingin keluar. Sekali lagi bukan karena pacarku. Kamu sudah putus!”
“Memang sudah bulat keputusanmu itu? Sudah dipertimbangkan sungguh?”
“Ya, aku merasa imamat bukan jalanku.”
Saat itu aku merasa sangat kecewa dan masih saja terus memaksanya, hingga suatu saat aku ingat akan perkataannya bahwa sejak awal dia tidak yakin masuk seminari. Tapi dia memaksa.  Ya, aku sudah janji untuk tidak membebaninya.
***
            Aku tesadar dari lamunan itu ketika suamiku pulang. Tak lama kemudian anak sulungku juga pulan. Kami bertiga makan bersama tanpa anak bungsuku.
“Pak, Markus besuk minggu kunjungan jadi kita sama-sama mengunjungi Dwi.”
“Ibu mau bawakan apa untuknya?” tanya suamiku
“Aku tidak tahu! Tapi aku akan bilang, dia bebas untuk memilih jalan hidupnya, imamat atau awam. Sekarang aku sadar, aku tidak akan membebaninya lagi.”
Semua hanya terdiam dan hanya suara televisi dan binatang malam yang berbunyi. Sekarang aku tidak akan membebani anakku lagi. Dulu aku mempunyai impian bahwa salah satu dari anakku ada yang menjadi imam, dan aku akan sangat bahagia dengan itu. Tapi bagaimanapun itu semua tergantung pada kehendak Bapa, aku menyerahkan segalanya kepadaNya. Jika anakku keluar dia telah membuktikan bahwa bukan karena lawan jenis, tapi memang dari hatinya yang terdalam mengatakan bahwa imamat bukan jalannya.  Dan apapun yang dia pilih aku akan mendukungnya. Dia tetap menjadi anakku….
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar