11/09/2012

“Tuhan Udah Baik Sama Gue, jadi Gue Juga Harus Baik Sama Orang Lain”


H
idup manusia penuh dengan cobaan. Silih berganti. Akankah manusia kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan itu?
Prasasti, seorang gadis yatim piatu. Papanya pergi meninggal atau meninggalkan keluarga diapun tidak tahu, sedangkan mamanya meninggal karena mengonsumsi narkoba. Menurut cerita mamanya, dulu papanya menikah dengan wanita lain. Prasasti harus berhenti kuliah dan menjual rumah dan segala isinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia kost dan bekerja menjadi penjaga karcis di Planetarium dan bioskop di dekatnya. Prasasti memiliki teman kost bernama Salman. Diam-diam, Salman menaruh hati kepadanya, akan tetapi Prasasti tidak mau menerima dia sebagai pacarnya karena Prasasti trauma dengan apa yang dialami mamanya. Prasasti juga ingin hidup sendiri dulu. Mereka sering berjalan bersama, sehingga banyak orang mengira kalau mereka pacaran. Tanpa disadari Prasati mengidap penyakit yang aneh dan langka yang disebut lupus.  Sering Prasasti jatuh pingsan, pusing dan persendiannya ngilu.
            Suatu ketika dia bertemu dengan Zahir yang saat itu sedang menjemput adiknya di Planetarium. Pertemuan singkat itu membawanya ke gerbang cinta. Prasasti dan Zahir sama-sama suka dan mereka semakin sering bertemu. Salman cemburu dan merebut Prasasti. Zahir sudah lama tidak bertemu Prasasti karena kini dia sering bersama Salman. Suatu ketika Salman kecelakaan dan meninggal. Prasasti sendirian dan sering jatuh sakit. Oleh tetangganya dia dibawa ke rumah sakit. Ketika dirawat di rumah sakit, Prasasti sering memimpikan Zahir. Prasasti semakin membuka hati untuk Zahir. Setiap hari Zahir menjenguk Prasasti, akan tetapi Prasasti tidak mengerti.  Keadaan Prasasti semakin membaik dan dia sering bertemu dengan Zahir. Akan tetapi, Zahir telah dijodohkan oleh orangtuanya dengan Marsha. Zahir tidak mau menikah dengan Marsha dan dia memilih Prasasti. Suatu hari, Prasasti diundang ke rumah Zahir dan di sana dia bertemu dengan papanya Zahir. Pramana, papanya Zahir mengenali siapa Prasasti, ternyata dia anak kandungnya dan Zahir adalah anak dari sahabat Pramana. Akhirnya Prasasti dan Zahir menikah. Dan merekapun hidup bahagia meskipun Prasasti sering sakit-sakitan.

Refleksi
M
anusia mengalami banyak cobaan. Silih berganti, berat-ringan, secara terus menerus datang untuk menguji manusia. Dalam novel “Tuhan Jangan Pisahkan Kami,” Prasasti memberikan teladan dan inspirasi untuk menjadi orang yang kuat dan tegar. Walaupun dia mengalami banyak cobaan – mamanya meninggal, ditinggal Salman, sakit-sakitan dan masih banyak yang lain – dia tetap kuat dalam menjalani kehidupan ini. Dia percaya bahwa dirinya dapat tetap survive walaupun banyak kekurangan yang dimilikinya. Dia sadar dan percaya bahwa Tuhan akan selalu menolongnya. Karena dia telah ditolong oleh Tuhan, maka dia juga ingin membagikan kasih Tuhan kepada sesamanya.
            Lalu bagaimana dengan kita yang normal? Apakah kita tetap mau bersyukur atas anugerah yang diberikan olehNya? Apakah kita mau membagikan kasihNya kepada sesama kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar