11/11/2012
Partisipasi Umat dalam Liturgi
Partisipasi
di dalam liturgi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu : interior dan eksterior. Partisipasi
aktif interior adalah pikiran dan hati umat yang terjaga dalam melaksanakan
liturgi, sedangkan partisipasi aktif eksterior adalah hal-hal diluar jiwa yaitu
perkataan dan sikap tubuh dalam melaksanakan liturgi.
Partisipasi
umat dalam liturgi tidak hanya saat Perayaan Ekaristi dilaksanakan, namun
sebelum dilaksanakan Perayaan Ekaristi umat hendaknya juga berpartisipasi. Wujud
partisipasi umat sebelum pelaksanaan Ekaristi ialah dengan mempersiapkan diri
sebelum Ekaristi misalnya dengan membaca bacaan kitab suci, pemeriksaan batin,
berpakaian sopan, mematikan handphone
dan sebaginya. Dalam Perayaan Ekaristi hendaknya kita juga mengambil bagian
peran di dalam peran Kristus sebagai Imam Agung dan Kurban dalam perayaan
tersebut. Caranya dapat dengan turut mempersembahkan diri kita berserta ucapan
syukur, suka-duka, pergumulan dan pengharapan kita untuk dipersatukan dengan
kurban Kristus.
Secara
teknis dalam Perayaan Ekaristi, sikap partisipasi umat akan terlihat dengan
menunjukkan sikap badan dan keterlibatan dalam nyanyian-nyanyian atau dialog
dalam Ekaristi. Sebagai contoh : saat perarakan masuk umat diharapkan untuk
berdiri dengan tujuan untuk menyambut imam dan petugas liturgi lainnya, selain
itu umat juga diharapkan untuk ikut serta dalam menyanyikan lagu pembuka. Kerap
kali yang menjadi permasalahan dalam Perayaan Ekaristi ialah dialog antara imam
yang memimpin Ekaristi dengan umat. Dalam dialog seperti “anamnese”, dialog sebelum pembacaan Injil “Tuhan sertamu…”
biasanya hanya imam saja yang aktif, sedangkan umat enggan untuk menjawabnya,
sehingga menciptakan suasana yang kurang mendukung dalam merayakan Ekaristi. Oleh
karena itu, diharapkan umat dapat berperan dan berpartisipasi di dalam Liturgi
dengan menjawab dan memberikan sikap badan yang dapat mendukung berjalannya
Perayaan Ekaristi.
lihat lebih jelasnya :
http://katolisitas.org/9310/bagaimana-sikap-kita-di-dalam-liturgi
11/09/2012
Memilih Mengakui
P
|
ada tahun 1811, Brata seorang anak dari orang
kepercayaan gubernemen Belanda, mengenal seorang gadis bernama Danti dan
kakaknya yaitu Danar. Pertemuan itu sungguh tidak dikehendaki dan tidak
diinginkan oleh Brata, sebab kedua kakak beradik tersebut terus saja mengejeknya. Akan tetapi, mereka
tetap berteman baik sampai pada akhirnya mereka bertambah besar. Suatu ketika,
Brata mempunyai teman baru, dia adalah Karsa seorang anak jagal daging di pasar
Salatiga. Mereka berteman dan berlatih bela diri bersama di pinggir kali. Danti
adalah salah seorang langganan tetap Karsa dan mereka lama-kelamaan saling
mengenal dan akrab. Brata yang tahu bahwa Danti sering pergi ke pasar, dia
kemudian sering ke tempat Karsa berjualan untuk bertemu dengan Danti. Tak
diduga, Brata mempunyai rasa cinta kepada Danti, teman lamanya itu.
Suatu
hari, Brata memberanikan dirinya untuk mengungkapkan rasa cintanya, akan tetapi
dia ditolak sebab Danti telah jatuh cinta kepada Resa kakak dari Karsa. Sejak
saat itu, Brata malu untuk menemui Danti dan dia juga menjadi benci dengan
Resa. Brata lebih sering bertemu dengan Danar untuk membujuk dia agar jangan
menyetujui hubungan antara Danti dengan Resa. Danar terpengaruh dan ingin
menjatuhkan Resa. Danar dan Brata menyebarkan isu bahwa keluarga Abilawa
menjual daging haram dan mereka penganut agama sesat sebab hanya sholat tiga
kali dalam sehari. Keluarga Abilawa harus datang ke pengadilan untuk mengurus
hal tersebut, banyak orang menjadi benci dengan keluarga tersebut. Pengadilan
tersebut diakhiri dengan terbunuhnya Ki Abilawa oleh seorang bayaran Danar.
Rasa
cinta yang dimiliki oleh Danti dan Resa tidak dapat dipisahkan. Keduanya telah
sepakat untuk menikah, akan tetapi lamaran Resa ditolak oleh wakil keluarga
Danti dengan alasan Danti telah dijodohkan dengan Den Mas Lesmana seorang kaya
di Salatiga. Pernikahan antara Danti dan Lesmana berlangsung meriah. Akan
tetapi, Danti terpaksa mau menikah. Danti memiliki cara agar tetap ada hubungan
dengan Resa, Resa disuruh menikah dengan Karni adiknya. Akhirnya mereka
menikah.
Resa
dan Karni menjadi pasukan Dipanegaran untuk memberontak penjajahan. Brata yang
meras menyesal dengan apa yang dilakukan dulu, dia kemudian bergabung dengan
Resa dan Karni. Brata mengakui bahwa dirinya terlibat di dalam pembunuhan Ki
dan Nyi Abilawa, tapi dia menyesal dan akan membayarnya.
Refleksi
Hidup manusia sangat dekat dengan ketidak
sempurnaan. Karenanya sering manusia melakukan kesalahan baik secara sengaja
maupun tidak sengaja. Mengakui kesalahan atau mengungkapkan hal yang salah
merupakan suatu keberanian yang luar biasa, “wuah!”
Belajar dari Brata, dia tahu bahwa dirinya salah dan
rasa kesalahan itu terus menghantuinya karena dia tidak mau mengakuinya. Orang
katolik percaya bahwa Allah yang Maharaim, Dia berkenan untuk mengampuni. Hal
ini menjadi suatu jaminan agar orang mau mengakui kesalahannya dan mau
menjalankan penitensi sebagi wujud ber-transformasi menjadi yang lebih baik.
Jika Allah telah mengasihi kita sedemikian besar,
mengapa kita tidak mau mengakui kesalahan kita? Dan yang pening : maukah
ber-transformasi menjadi yang lebih baik?
“Tuhan Udah Baik Sama Gue, jadi Gue Juga Harus Baik Sama Orang Lain”
H
|
idup manusia penuh dengan cobaan. Silih berganti.
Akankah manusia kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan itu?
Prasasti, seorang gadis yatim piatu. Papanya pergi
meninggal atau meninggalkan keluarga diapun tidak tahu, sedangkan mamanya
meninggal karena mengonsumsi narkoba. Menurut cerita mamanya, dulu papanya
menikah dengan wanita lain. Prasasti harus berhenti kuliah dan menjual rumah
dan segala isinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia kost dan bekerja
menjadi penjaga karcis di Planetarium dan bioskop di dekatnya. Prasasti
memiliki teman kost bernama Salman. Diam-diam, Salman menaruh hati kepadanya,
akan tetapi Prasasti tidak mau menerima dia sebagai pacarnya karena Prasasti
trauma dengan apa yang dialami mamanya. Prasasti juga ingin hidup sendiri dulu.
Mereka sering berjalan bersama, sehingga banyak orang mengira kalau mereka
pacaran. Tanpa disadari Prasati mengidap penyakit yang aneh dan langka yang
disebut lupus. Sering Prasasti jatuh
pingsan, pusing dan persendiannya ngilu.
Suatu
ketika dia bertemu dengan Zahir yang saat itu sedang menjemput adiknya di
Planetarium. Pertemuan singkat itu membawanya ke gerbang cinta. Prasasti dan
Zahir sama-sama suka dan mereka semakin sering bertemu. Salman cemburu dan
merebut Prasasti. Zahir sudah lama tidak bertemu Prasasti karena kini dia
sering bersama Salman. Suatu ketika Salman kecelakaan dan meninggal. Prasasti
sendirian dan sering jatuh sakit. Oleh tetangganya dia dibawa ke rumah sakit.
Ketika dirawat di rumah sakit, Prasasti sering memimpikan Zahir. Prasasti
semakin membuka hati untuk Zahir. Setiap hari Zahir menjenguk Prasasti, akan
tetapi Prasasti tidak mengerti. Keadaan
Prasasti semakin membaik dan dia sering bertemu dengan Zahir. Akan tetapi,
Zahir telah dijodohkan oleh orangtuanya dengan Marsha. Zahir tidak mau menikah
dengan Marsha dan dia memilih Prasasti. Suatu hari, Prasasti diundang ke rumah
Zahir dan di sana dia bertemu dengan papanya Zahir. Pramana, papanya Zahir
mengenali siapa Prasasti, ternyata dia anak kandungnya dan Zahir adalah anak
dari sahabat Pramana. Akhirnya Prasasti dan Zahir menikah. Dan merekapun hidup
bahagia meskipun Prasasti sering sakit-sakitan.
Refleksi
M
|
anusia mengalami banyak cobaan. Silih berganti,
berat-ringan, secara terus menerus datang untuk menguji manusia. Dalam novel
“Tuhan Jangan Pisahkan Kami,” Prasasti memberikan teladan dan inspirasi untuk
menjadi orang yang kuat dan tegar. Walaupun dia mengalami banyak cobaan –
mamanya meninggal, ditinggal Salman, sakit-sakitan dan masih banyak yang lain –
dia tetap kuat dalam menjalani kehidupan ini. Dia percaya bahwa dirinya dapat
tetap survive walaupun banyak
kekurangan yang dimilikinya. Dia sadar dan percaya bahwa Tuhan akan selalu
menolongnya. Karena dia telah ditolong oleh Tuhan, maka dia juga ingin membagikan kasih Tuhan kepada sesamanya.
Lalu
bagaimana dengan kita yang normal? Apakah kita tetap mau bersyukur atas
anugerah yang diberikan olehNya? Apakah kita mau membagikan kasihNya kepada
sesama kita?
11/08/2012
Choose Your Love Your Choice
Pengantar
Let Go Let God! Kehendak Tuhan terjadilah. Panggilan hidup
merupakan sebuah misteri yang tidak dapat dijawab oleh manusia. Manusia dapat
berusaha mencari jawaban dari misteri tersebut, namun tetap saja jawaban
tersebut tidak dapat ditemukan. Semua itu merupakan prakarsa Allah. Manusia
hanya dapat menjalani hidup ini dengan kesetiaan akan panggilan hidupnya.
Dalam menjalani panggilan hidupnya, manusia tidak
langsung diberitahukan tentang panggilan hidupnya. Tuhan memberikan banyak
pilihan kepada manusia untuk menemukan panggilan hidupnya. Dalam pilihan
tersebut, manusia diajak untuk mendengarkan suara hati nurani yang merupakan
kehendak Tuhan. Memilih tidak semudah membalikkan telapak
tangan saja. Artikel berjudul “Setiapkali Harus Memilih” karangan Yulita Noria
dan “Memilih dengan Hati” karangan Merry Un Lias akan menghantarkan kita semua
kepada bagaimana kita hendaknya memilih di saat kita menghadapi pilihan-pilihan
di dalam hidup. Kedua artikel tersebut mengajak pembaca untuk dapat memahami
apa yang ada di balik pilihan-pilihan itu dan diharapkan dapat mencintai
pilihan yang telah diambil dan menerima konskuensi dari pilihan tersebut.
Mengapa Artikel
ini (?)
Artikel
karangan Yulita Noria dan Merry Un Lais dalam buku “Secercah Lentera Kehidupan
: Kisah-kisah Inspiratif Para Pewarta Iman” memiliki kesamaan yaitu membahas
dan mensharingkan tentang pilihan hidup terutama pilihan mereka untuk menjadi
seorang katekis. Kedua judul artikel ini dipilih oleh penulis karena tema yang
menarik yaitu tentang pilihan hidup dan panggilan hidup. Panggilan dan pilihan
dalam hidup menjadi hal yang selalu dipertanyakan oleh manusia yang menjadi
pelakunya. Terkadang manusia dengan mudahnya untuk memilih dan mengambil sebuah
keputusan, namun setelah mengambil keputusan tersebut, apakah mau untuk
mencintai pilihan tersebut dan menerima konsekuensi dari pilihan itu? Artikel
ini mengajak kita semua untuk setia dan mencintai pilihan kita. Kita yang telah
memilih, maka beranilah untuk mencintai pilihan tersebut.
Ringkasan
Artikel
Perjalanan
dari dua orang katekis yang berbeda, tetapi memiliki pergulatan yang sama yaitu
tentang “pilihan”. “Setiap kali harus Memilih[1]”
dan “Memilih dengan Hati[2].”
Yulita Noria – alumni STKAT angkatan 1985 –
mengalami pergulatan dalam hal memilih. Kisahnya sebagai seorang katekis
dimulai sejak tahun 1981. Dia berkenalan dengan Pastor Bertus Visschedijh MHM
dan Cece Afra Siowardjaja di PanKat Keuskupan Agung Pontianak saat di Wisma
Emaus Nyarumkop. Setelah usai ujian negara, akhirnya pada tanggal 3 Mei 1982,
dia memilih untuk pindah rumah ke Wisma Emaus untuk belajar melayani sebagai
seorang katekis.
Suatu ketika pada bulan Agustus, dia ambil bagian
dalam retret kampung di Capkala bersama dengan tim Emaus. Dia memimpin suatu
pertemuan dan berusaha menerangkan bahwa Allah itu adalah Bapa yang baik. Sejak
saat itu, dia merasa berani untuk berbicara di depan banyak umat sebagai katekis. Di tahun-tahun
selanjutnya, dia aktif di dalam pembinaan dan pelayanan pastoral bersama tim
Emaus, terlibat dalam kegiatan pembinaan untuk masyarakat perbatasan hingga
suatu saat dia mendapatkan tawaran untuk
melanjutkan studi. Bulan Januari 1985, dia memperoleh tawaran dari Pastor
Bertus untuk melanjutkan studi di STKAT PRADNYAWIDYA YOGYAKARTA (sekarang
menjadi Prodi IPPAK-USD). Di sinilah dia mulai mengalami pergulatan dengan
pilihannya. Di satu sisi tawaran ini merupakan kesempatan baginya, namun di
sisi lain dia menyadari akan kemampuannya dalam bidang akademik yang kurang, dia
merasa takut tidak dapat bersaing dengan teman-temannya. Akhirnya dia memilih
untuk menerima tawaran tersebut dan selalu mengingat akan pesan dari
orangtuanyaa agar jangan merasa ragu dengan dirinya sendiri.
Perjalanan di STKAT PRADNYAWIDYA dimulai. Kebersamaan
dengan teman-teman membuatnya semakin yakin bahwa Allah itu sungguh setia.
Berbagai pengalaman seperti ketika dia mengalami kecelakaan dan harus berbaring
di rumah sakit membuat dirinya semakin yakin betapa baiknya Tuhan sebab ada
banyak orang yang peduli kepadanya.
Setelah tamat studinya dari STKAT PRADNYAWIDYA, dia
kembali ke rumahnya yaitu Wisma Emaus. Pengalaman demi pengalaman dia lalui
dengan setia menjadi katekis hingga suatu saat dia juga harus memilih, apakah
anak atau pelayanan. Saat anaknya yang masih berumur empat bulan sedang demam,
dia harus pergi ke luar kota untuk menjalankan tugasnya sebagai katekis. Tak
berhenti sampai di sini, dia terus mengalami pergulatan dalam pilihan. Pada tahun 2000, dia diikutsertakan
untuk merayakan Jubelium Agung di Roma oleh Pator Terry Ponomban. Awalnya dia
menolak dengan alasan putri keduanya baru berumur dua bulan tiga minggu.
Pilihan ini sulit baginya, akan tetapi berkat dukungan dan ke-care-an keluarga dan sahabatnya, dia
mengikuti Jubelium Agung dan mendapatkan berkat langsung dari Paus Yohanes
Paulus II ketika menjadi petugas pembawa persembahan. Dia mengatakan bahwa
tidak mudah untuk memahamiu panggilan hidupnya, namun sekarang dia telah
menemukan jawabannya bahwa dia dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi katekis yang
mewartakan Kabar Gembira.
Lain kisahnya dengan Merry Un Lais – alumni IPPAK
angkatan 1999 – yang menjadi katekis di tanah Papua. Kisah panggilannya menjadi
katekis di Papua tepatnya di Timika bermula ketika adanya tawaran untuk bekerja
menjadi petugas pastoral dari Vikjen Keuskupan Timika. Cerita-cerita tentang
kurangnya tenaga pastoral, medan karya yang berat dan transportas yang sulit di
Papua menjadi tantangan dan semangat baginya untuk berkarya di tanah Papua.
Selain tawaran di Papua, dia juga mendapatkan tawaran bekerja du Keuskupan
Tanjung Selor, di perusahaan Pupuk Kaltim dan di Jakarta. Sebuah perkataan
kecil dari suami temannya yang membuka mata dan hatinya, “Merry, mencari pekerjaan berasal dari hati. Walau pun pekerjaan itu di
kota besar, gajinya besar, tapi hatimu tidak senang, maka semua itu tidak punya
arti apa-apa untukmu. Sebaliknya, walau pun pekerjaan itu di kota terpencil
dengan gaji yang kecil, tapi kamu merasa sangat gembira, maka tempat itu akan
sangat berarti buat kamu.” Saat itu lah, dia mulai memilih, apakah bekerja
di kota besar seperti Jakarta dengan gaji yang tinggi atau kah bekerja di
Timika dengan gaji yang rendah. Dan akhirnya pilihannya jatuh pada pilihan
untuk menjadi katekis di Timika. Setibanya di sana, dia mendapatkan tugas yang
berlimpah yang mungkin tidak setimpal dengan gaji yang diperolehnya. Akan
tetapi, dia tetap setia dan semangat menjalani pilihanya tersebut untuk menjadi
katekis dan tenaga pastoral di Timika karena hatinya berada di sana.
Tanggapan Penulis
tentang Artikel
Memilih
bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan oleh kebanyakan orang. Jika
pilihan-pilihan yang ada adalah pilihan antara yang baik dan yang buruk, maka akan
lebih mudah untuk memilih. Secara
langsung, manusia akan memilih pilihan yang baik. Akan tetapi, bagaimana jika
manusia dihadapkan dengan pilihan yang sama baiknya? Kita perlu berdiskresi dan
sungguh-sungguh mempertimbangkan pilihan tersebut dengan hati yang matang,
sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Artikel
karangan Yulita Noria dan Merry Un Lain secara langsung dan tegas mengajak
pembaca untuk berani memilih, mencintai pilihan dan menerima konsekuensi dari
pilihan yang telah diambil. Melalui sharing pengalaman dalam hal pilihan hidup,
Yulia Noria dan Merry Un Lais menunjukkan sikap yang dewasa, dimana mereka
berani untuk memilih dan mengambil suatu keputusan dan mereka mencintai apa
yang telah mereka pilih beserta menerima konsekuensi dari pilihan tersebut.
Selain itu, mereka juga menunjukkan bagaimana memilih. Memilih di antara dua
pilihan yang sama-sama baik. Membuka mata, telinga dan hati untuk dapat
menemukan kehendak Tuhan atas hidup.
Yulita
Noria sebagai seorang yang terpanggil menjadi katekis mengalami berkali-kali
pengalaman untuk memilih antara yang baik dan yang lebih baik. Pilihan antara
anaknya sendiri atau tugas pelayanan sebagai seorang katekis membuat dirinya
menjadi pribadi yang matang dalam menjalani hidupnya. Jika dia tidak membuka
mata, telinga dan hatinya, maka dia akan memilih yang hanya membuat dirinya
nyaman. Tidak hanya sekali saja dia harus memilih, namun berkali-kali di setiap
perjalanan hidupnya dia harus memilih dan di dalam setiap pergulatannya dalam
memilih dia selalu mengikuti suara hati nuraninya bukan emosi sesaat yang dialaminya.
Begitu juga dengan Merry Un Lais yang dipanggil menjadi seorang katekis di
tanah Papua yang tentu memiliki tantangan dan rintangan dalam berkarya baik
dari medan, transportasi dan mungkin penduduknya. Dia mengalami sebuah
pergulatan dalam menentukan langkah untuk bekerja dan melayani, apakah akan
bekerja di Jakarta dengan gaji yang besar namun dirinya tidak merasa gembira
atau bekerja di Papua dengan gaji yang kecil dan dirinya merasa senang. Dalam
menentukan pilihan, dia tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri, akan tetapi
dia juga memperhatikan orang lain di sekitarnya. Perkataan dari suami temannya
justru membuatnya sadar dengan pilihannya bahwa memilih itu menggunakan hati.
Artinya untuk mengambil sebuah keputusan harus berdasarkan suara hati nurani,
bukan hanya berdasarkan suka atau tidak suka dengan pilihan itu.
Secara
tegas, kedua artikel tersebut mengajak pembaca untuk berani memilih sebuah
pilihan dengan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh berdasarkan suara
hati nurani dan berani menerima segala konsekuensi dan resiko dari pilihan
tersebut.
Kesimpulan
Hidup
ini selalu dihadapkan dengan pilihan-pilhan yang harus diambil. Hanya satu dari
dua pilihan yang ada harus diambil. Antara pilihan yang baik dan buruk, akan
mudah untuk mengambil pilihan yang baik. Namun, akan berbeda jika yang
dihadapkan adalah pilihan yang baik dan baik atau baik dan lebih baik. Kita
perlu membuka mata, telinga dan hati kita untuk dapat mengambil keputusan yang
bijaksana dengan segala pertimbangan yang ada, sehingga nantinya tidak menyesal
dengan apa yang menjadi pilihan hidup.
Dalam
Latihan Rohani, Santo Ignatius Loyola menerangkan bahwa memilih tidak dapat
dilakukan ketika hati sedang merasa senang sekali atau sedih sekali sebab hal
tersebut akan sangat berpengaruh akan pilihan hidup. Yang mendasari sebuah
pilihan bukanlah suasana hati dimana suka atau tidak suka, namun pilihan itu
tergantung pada suara hati yang merupakan kehendak Allah. Memilih jangan
terburu-buru, tetapi jangan pula terlalu lama dalam wilayah abu-abu. Artikel di
atas mengajak pembaca untuk berani memilih dan mencintai pilihannya sehingga
siap untuk menerima segala resiko yang diperoleh karena pilihan tersebut. Choose your love and love your choice!
Langganan:
Postingan (Atom)
